Akankah Indonesia Menjadi Negara Gagal Akibat Pandemi?

0
13

BELUM lama ini nama Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang biasa disapa Ibas secara tiba-tiba menjadi buah bibir di berbagai media social. Hal ini menyusul ucapannya yang menyebut jangan sampai Indonesia menjadi negara gagal (failed nation) karena tidak mempu menyelamatkan warganya.

Hal tersebut ia lontarkan menyusul semakin mengganasnya pagebluk Covid-19 di negeri ini. “Sampai kapan bangsa kita akan terus begini? Jangan sampai negara kita disebut sebagai failed nation atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya,” kata Ibas beberapa waktu lalu.

Pasca terlontarnya kritikan tersebut, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI tersebut sontak menjadi buah bibir, bahkan mendapat serangan dari berbagai pihak pro pemerintah.

Menyikapi polemik tersebut, saya pribadi lebih memilih untuk tidak berpihak kepada siapapun. Yah, meskipun secara prinsip, keberpihakan saya pun tidak akan membawa imbas apa-apa.

Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, hingga kini saya masih berusaha melakukan apa yang pernah disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer. Kala itu ia menyebut bahwa seseorang terpelajar seharusnya sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Karenanya, dalam hal kritikan yang disampaikan Ibas tidak akan saya tanggapi secara berlebihan. Sebab, pihak Ibas maupun mereka yang pro pemerintah sebenarnya dua-duanya sama benarnya.

Bagaimana tidak? Jika kita mau sedikit jujur, kekhawatiran semacam apa yang diungkapkan Ibas tentu sesekali terbesit dalam benak kita masing-masing mengingat segala macam dampak yang diakibatkan oleh pandemi nyatanya juga tak kunjung dapat terselesaikan.

Meskipun begitu, kita juga tentu tahu siapa Ibas. Ibas adalah putra Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kebetulan saat ini memang cukup berseberangan dengan pemerintah. Jadi, ungkapan Ibas tersebut tentu juga tak akan lepas dari sebuah muatan politis.

Secara general opini Ibas bisa dikategorikan sebagai kritikan antisipatif. yaitu jika pemerintah Indonesia tidak menangani Pandemi covid 19 dengan baik, maka Indonesia terancam menjadi negara gagal.

Jika dimaknai seperti ini, opini Ibas menjadi positif. Sayangnya, opini Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini tidak sepenuhnya tepat dan bertanggung jawab.

Lowy Institute memang menempatkan Indonesia di ranking 85 dari 98 negara terkait dengan kinerja pengendalian Covid -19. Posisi Indonesia bahkan di bawah beberapa negara Asean, seperti Thailand dan Singapura.

Namun pemeringkatan tersebut tidak mempertimbangkan jumlah penduduk Indonesia yang besar, status ekonomi masyarakat yang sebagian besar midlle low sehingga harus bekerja untuk bisa makan, nilai budaya yang menyulitkan masyarakat melakukan pembatasan sosial (tradisi mudik, misalnya).

Selain itu, tentu berbagai faktor juga mempengaruhi melemahnya kinerja pemerintah dalam menanggapi pandemi Covid-19. Dan yang terpenting, mengenai buruknya penanganan pemerintah dalam menghadapi Covid-19 tentu bukan mutlak tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Indonesia.