Klaster Manakib di Kuryokalangan; Satu di Antaranya Bidan Desa

0
502
Kepala Dusun (Kadus) Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Abu Chamid.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Jangan terkejut jika di Pati saat ini muncul klaster baru dari kelompok pembaca manakib, di Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus. Sebanyak 37 orang diketahui positif terpapar Covid-19, satu di antaranya adalah Bidan Desa setempat yang sebenarnya baru tiga bulan berdomisili di desa itu.

Aka tetapi, personel ujung tombak yang terus berupaya mengedukasi warga yang baru pindah dari luar Jawa itu, tiga haru lalu juga ikut terpapar sehingga harus menjalani isolasi mandiri. Sedangkan dua warga lainnya yang juga harus menjalani isolasi mandiri, dan dalam pantauan pihak Babinsa dan Babinkamtibmas, diketahui sering meninggalkan rumah.

Berdasar keterangan Kepala Dusun (Kadus) desa setempat, Abu Chamid, pihaknya saat ini sudah mengalami kesulitan untuk menyampaikan hal-hal berkait masa pandemi Covid-19 kepada warga. Sebab, warga tidak percaya sesuatu yang tidak terlihat tesebut memang ada, dan buktinya kini menimpa kelompok manakib.

Hal itu bermula sekitar akhir Maret lalu, saat salah seorang kelompok ini pulang merantau dari Jakarta, kemudian menyelenggarakan pembacaan manakib. ”Sudah barang selesai acara tersebut dilanjutkan acara lain-lain, sehingga tanpa disadari terjadi kerumunan sampai akhirnya ada yang merasa suhu badannya tinggi,” ujarnya.

Berikutnya, lanjut dia, setelah dilakukan test swab antigen, hasilnya positif terpapar dengan jumah seluruhnya 37 orang. Satu di antaranya yang kali terakhir adalah Bidan Desa, dan dari jumlah tersebut ada di antaranya dua orang yang sampai sekarang masih harus dirawat di rumah sakit, satu di antaranya adalah santriwati kiai yang membacakan doa manakib.

Saat itu santriwati yang bersangkutan mendapat informasi bahwa Pak Kiai sedang tidak enak badan, sehingga menengok ke rumahnya. Setelah itu harus dilarikan ke rumah sakit hingga sekarang,  dan yang membuat pihaknya tak habis mengerti justru yang positif terpapar dari klaster ini jumlahnya mencapai puluhan.

Jika dari jumlah tersebut yang seharusnya menjalani isolasi mandri, ternyata dua di antaranya tidak patuh maka dampak yang ditimbulkan adalah penyebaran sampai di luar klaster tersebut. ”Apalagi, begitu ada yang pernah mengetahui bahwa salah satu di antara orang tesebut berada di Pasar Winong maka berikutnya ganti ke mana lagi tidak ada yang mengetahui.

Hal itu tak ubahnya, selama ini di desa tersebut sudah tercatat jumlah kematian sebanyak sebelas orang, tapi untuk pemakamannya berlangsung biasa. ” Sebab, masyarakat banyak yang tak percaya bahwa Covid-19 itu benar adanya,”tandasnya.