Fraksi PPP: Terorisme Adalah Musuh Bersama

0
123
Sekretaris Fraksi PPP DPRD Pati, Muslihan.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Belakangan ini kita dipertontonkan dengan peristiwa keji pengeboman Gereja Katedral di Makasar dan penyerangan Mabes Polri. Tindakan ini merujuk kecenderungan sebuah aksi terorisme atau boleh dikatakan tindakan ekstremisme.

Menurut Sekretaris Fraksi PPP DPRD Pati, Muslihan di sinilah perlunya pemahaman yang cukup akan terorisme agar dapat memberikan pencerahan kepada masyarkat baik dari sisi pengertian, motif dan karakter terorisme.

Ia mengatakan terorisme berkaitan dengan teror dan teroris. Artinya ialah penggunaan kekerasan oleh pelaku untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan.

Setiap tindakan atau ancaman kekerasan, apapun motif dan tujuannya, dalam agenda kriminal baik secara individu atau kolektif akan merugikan orang banyak. Di samping itu, dengan peristiwa tersebut menyebarkan kepanikan bagi masyarakat. Bahkan menimbulkan korban jiwa maupun material.

“Sangatlah tidak bisa diterima Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai entitas politik yang senantiasa memperjuangkan persatuan dan kedamaian bangsa,” ungkap Muslihan kepada Samin News, Selasa (6/4/2021).

PPP, menurutnya tetap konsisten mengutuk setiap tindakan terorisme apapun motifnya. Karena tindakan tersebut bertentangan dengan agama maupun hukum pemerintahan di Indonesia. Pasalnya Islam kita adalah Islam Indonesia, dan Islam yang benar adalah mengajarkan tentang kedamaian dan rahmatan lil alamin.

Muslihan menganalisis sebagaimana disampaikan USA Army Training and Doctrine Command, terdapat beberapa kategori mengenai motivasi yang umum digunakan sebagai alasan terorisme oleh suatu gerakan tertentu.

“Separatisme, yakni gerakan untuk mendapatkan eksistensi kelompok melalui pengakuan kemerdekaan, otonomi politik, kedaulatan, atau kebebasan beragama. Kategori ini dapat timbul dari nasionalisme dan etnosentrisme pelaku,” jelasnya.

Kemudian, motif kedua adalah etnosentrisme. Motivasi gerakan berlandaskan kepercayaan, keyakinan, serta karakteristik sosial khusus yang mempererat kelompok tersebut. Sehingga terdapat penggolongan derajat suatu ras.

Penggolongan ini, kata dia membuat orang atau kelompok yang memiliki ras tinggi semena-mena dengan kelompok ras yang lebih rendah. Tujuannya ialah mempertunjukan kekuasaan dan kekuatan (show of power) demi pengakuan bahwa pelaku masuk dalam ras yang unggul (supreme race).

Ketiga, motif nasionalisme merupakan kesetiaan dan loyalitas terhadap suatu negara atau paham nasional tertentu. Paham tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kesatuan budaya kelompok, sehingga bermaksud untuk membentuk suatu pemerintahan baru. Atau justru hendak melepaskan dari suatu kedaulatan untuk bergabung dengan pemerintahan yang memiliki pandangan atau paham nasional yang sama.

Keempat adalah motif revolusioner ini berkaitan dengan dedikasi untuk melakukan perubahan atau menggulingkan pemerintahan dengan politik dan struktur sosial yang baru. Gerakan ini identik dengan idealisme dan politik komunisme.

Lebih lanjut, Ia memaparkan motif etnosentrisme termasuk di dalamnya pemahaman fanatisme agama yang berlebihan menjadi pewarna utama setiap kali ada tindakan terorisme. Dan yang paling tersudut dalam hal ini adalah umat Islam. Sebab ini akibat dari tindakan segelintir oknum yang mengatasnamakan Jihad Islam.

Terlepas siapa dibalik tindakan terorisme tersebut dan agenda apa yang hendak dimainkan, yang jelas tindakan tersebut merupakan kebiadaban di tengah peradaban kemanusiaan yang menjadi musuh bersama .

“Oleh karena itu, PPP mengimbau agar seluruh elemen masyarakat untuk tetap bersinergi khususnya umat Islam untuk melawan terorisme dengan gerakan pendidikan ‘Hubbul Wathon’ secara masif,” tegas Muslihan.

Selain gerakan Hubbul Wathon, pihaknya menambahkan kegiatan dakwah dengan cara yang damai dan sejuk sesuai dengan syariat Islam yang benar dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang ada. Yakni lebih mengedapankan nilai toleransi antar umat beragama, pluralisme.

Karena Indonesia adalah rumah kita bersama yang harus kita jaga dan Pancasila adalah hasil konsensus nasional sebagai dasar bernegara kita yang telah final. Maka kesadaran inilah yang harus ditanamkan kepada generasi penerus bangsa ini.