Harapan Puan Tak Ada Salahnya, Lihat Saja Fenomena Masjid Digembok

0
30

APA salahnya berharap? Bahkan sepertinya kita sudah cukup lama meyakini bahwa harapan memiliki posisi yang cukup penting dalam mencapai sebuah tujuan tertentu. Lantas mengapa pernyataan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Puan Maharani kini dipermasalahkan?

Beberapa waktu yang lalu, Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan harapannya terkait Masjid Istiqlal pasca renovasi. Saat memberi sambutan di acara Gerakan Nasional Mengisi Masjid dengan 1 Juta Sajadah tersebut, ia mengatakan bahwa setelah selesai direnovasi, ia berharap agar Masjid Istiqlal bisa menjadi wajah bagi umat non-Muslim dalam mempelajari Islam Indonesia yang moderat dan cinta toleransi serta perdamaian.

Pernyataan itu sontak menjadi perhatian publik, berbagai respon pun menyeruak setelah pernyataan tersebut terlontar dari mulut Ketua DPR RI tersebut. Seperti apa yang disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang merespon pernyataan puan tersebut dengan sebuah penjelasan.

“Sebenarnya itu sudah terlaksana semenjak saya menjadi imam besar, 2016. Sebelum pandemi, itu ada 300 turis datang dalam sehari. Kami mencontoh Masjid Nabawi di Madinah, kan seperti itu juga,” tuturnya.

Selain respon Nasaruddin Umar, pernyataan puan tersebut juga menuai berbagai reaksi di lini masa media sosial. Mereka menganggap pernyataan tersebut adalah cerminan bagaimana gagapnya Puan atas keterbukaan Masjid Istiqlal.

Memang benar, bahwa Masjid Istiqlal sudah menjadi lambang bagaimana terbukanya bangsa Indonesia sejak dahulu kala.

Jauh sebelum Puan melontarkan harapan, Bung Karno sudah mengomandoi pembangunan masjid terbesar se-Asia Tenggara itu sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Dan memang dari awal pendirian sudah demikian tujuannya.

Bahkan jika kita mengingat kembali perancang Masjid Istiqlal sendiri bukanlah dari kalangan muslim, melainkan nonmuslim. Friedrich Silaban namanya, ia pemenang sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal. Dan ia pun beragama Protestan.

Meskipun begitu apa salahnya pernyataan Puan kali ini? Apa sebagian dari kita justru menganggap salah hanya karena terbawa perasaan atas track record Puan selama ini?

Selain itu, pernyataan Puan kali ini sudah sepantasnya kita jadikan sebagai medium untuk berefleksi tentang bagaimana kondisi masjid kita selama ini.

Lihat saja mengenai fenomena masjid dikunci yang kini terasa begitu lumrah di Indonesia. Jangankan non-muslim, muslim saja tentu tidak bisa masuk kalau tempat ibadah dikunci seperti itu.

Fenomena masjid dikunci di luar waktu utama shalat tentu tidak sekali dua kali kita temui. Tidak hanya masjid berukuran besar dan ‘mewah’, tapi juga terjadi pada masjid-masjid sederhana, di kampung-kampung kecil.

Gejala dikuncinya masjid seperti sekarang ini tentu cukup menghawatirkan. Sebab masjid sudah tidak lagi menjadi tempat terbuka bagi seluruh masyarakat tapi seolah khusus diperuntukkan bagi masyarakat seputar masjid saja.

Oleh karenanya, harapan Puan sudah seharusnya tidak perlu kita tanggapi secara berlebihan. Jangan sampai karena kita tidak menyukai orangnya, lantas kita terus-menerus mencari celah kesalahannya.