Warga Kosekan Merasa Alur Kali Juwana ”Terbendung” Jembatan Tanjang

0
116
Alur kali di bagian hulu dan hilir Jembatan Tanjang, di ruas jalan provinsi Pati-Purwodadi.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Di tengah kondisi meluapnya alur Kali Juwana yang berdampak terjadinya genangan air di beberapa desa di Kecamatam Gabus yang berlokasi di pinggir alur kali itu, muncul spekulasi pendapat. Utamanya pendapat tersebut dilontarkan oleh warga Desa Kosekan, dan dipertegas oleh Kepala Desa (Kades) setempat, Isro’i.

Sedangkan pendapat yang diamini warga setempat tak lain, bahwa genangan air yang terjadi di Desa Kosekan saat ini sepertinya sudah terbendung oleh bagian bawah badan Jembatan Tanjang yang panjangnya mencapai 100 meter. Akibatnya air yang menggenang di areal persawahan dan juga lingkungan permukiman warga sangat lambat.

Dengan demikian, kondisi di desa tersebut saat air menggenangi areal persawahan yang terdapat tanaman padi muda maupun menjelang tua seluas 60 hektare. ”Adapun yang efektif, dan besar kemungkinan masih tersisa dan bisa dipanen kurang lebih 30 hekatare, karena tidak tergenang air sampai berlebihan,”ujarnya.

Tanaman padi petani di Desa Kosekan, Kecamatan Gabus, yang tergenang air dan genangan air di halaman rumah penduduk setempat.

Dengan kondisi seperti itu, lanjutnya,  maka genangan air yang limpas di areal persawahan maupun di permukiman warga, tentu sangat lambat mengalirnya. Sebab, areal persawahan dan permukiman warga kosekan itu posisinya lebih tinggi bila dibanding dengan posisi jembatan Tanjang yang ternyata bagian bawah badan jembatannya menghalangi mengalirnya air dari hulu.

Harapannya, agar kondisi tersebut tidak diperburuk dengan munculnya sangkrah yang hanyut dari hulu, dan menyangkut di bawah jembatan. ”Biasanya, sangkrah tersebut yang terbanyak adalah batang pisang, potongan pucuk bambu, dan kalau muncul eceng gondok yang hanyut ke hilir juga menyangkut di bawah kolong jembatan.”imbuhnya.

Akses ruas jalan di Desa Kosekan, Kecamatan Gabus, Pati yang mulai tergenang air.

Bagi warga Kosekan, karena datangnya banjir saat musim penghujan sulit ditolak, maka akhirnya dalam menghadapi hal itu akhirnya sudah biasa. Penjabarannya, jika memang banjir  yang menggenangi desa sewaktu-waktu bertambah, maka langkah akhir yang harus dilakukan warga adalah pergi mengungsi dari desanya.