Pandemi Bukan Melulu Tentang Pemerintah

0
13

SECARA lebih substantif, kita semua merupakan seorang pemimpin pemerintahan. Setidaknya untuk seluruh bagian tubuh yang kita miliki dan kita ambil fungsinya setiap hari. Sementara itu, di sisi lain kita selalu menyalahkan pemerintah mengenai penanganan pandemi Covid-19.

Padahal jika kita sadari, meskipun kita seringkali bersuara lantang dalam mengkritik pemerintah, namun pada titik tertentu kita justru seringkali gagal memerintah diri sendiri untuk sekedar mematuhi protokol kesehatan.

Seperti kita ketahui, ribuan triliun rupiah sudah digelontorkan oleh pemerintah dalam rangka penanganan Covid-19. Angka ini tentunya sudah menyentuh ambang batas kepedulian pemerintah dalam memberi proteksi terhadap kesehatan dan kesejahteraan warga negara

Ketika pandemi ini muncul di Indonesia pada Maret 2020, pemerintah sigap dalam membuat kebijakan. Pelan tapi pasti, Pemerintahan Jokowi-Ma’aruf membuat mekanisme-mekanisme konstruktif agar semua warga negara tetap tercover dari wabah mematikan ini.

Dari Maret 2020 hingga menyentuh Maret tahun 2021, tanda-tanda berakhirnya pandemi ini masih belum terlihat. Apa yang pasti adalah hidup kita ada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Yang pasti adalah ketidakpastian apakah kita akan keluar dari cengkeraman pandemi atau tetap terlilit di dalamnya. Hingga saat ini pula, jumlah pasien terpapar Covid-19 sudah mencapai angka satu juta. Lalu pertanyaannya “Apa yang perlu dibenahi?”

Selama ini tuntutan dan permintaan kepada pemerintah terus menumpuk dan mengantri untuk direalisasi. Perlu ini dan itu, pemerintah pasti berusaha melayani. Semuanya diupayakan pemerintah dalam mengontrol penyebaran pandemi virus corona ini.

Saking seringnya meminta ini itu, bahkan bisa jadi stamina kita sama terkurasnya dengan pemerintah yang kita kritik tiap hari.

Ketika stamina melemah, alhasil, ada banyak problem lain, seperti kriminalitas mengudara di masa pandemi ini. Meski demikian, pemerintah tetap setia memberi anjuran, aba-aba, koreksi, pengawasan, dan terapi untuk semua warga negara. Dalam hal ini, saya benar-benar mengapresiasi kepala negara kita Presiden Joko Widodo.

Dalam kondisi sengkarut seperti ini, kita tentu perlu meletakkan sebuah sasaran bidikan refleksi dalam diri kita masing-masing. Dalam hal ini, ada hal sederhana yang perlu kita jadikan sebagai pondasi pemikiran dalam diri kita, yakni mengenai pemahaman bahwa pandemi bukan hanya tentang kebijakan pemerintah saja.

Secara alamiah, dengan insting bertahannya, manusia memang seringkali hanya bisa menyalahkan tanpa mau disalahkan. Hal ini tentu juga berlaku dalam konteks penanganan wabah Covid-19 yang sedang terjadi di negeri kita ini.

Selama ini kita terlalu disibukkan oleh keinginan menghakimi tanpa mau berbenah dan merefleksikan apa yang telah kita lakukan selama ini.