Memoar Cinta SBY Korbankan Nasib Masyarakat ?

0
118
(Istimewa)

MUSEUM SBY-Ani secara tiba-tiba kini menjadi bahan perbincangan dan gunjingan oleh berbagai pihak di laman Twitter setelah Pemerintah Kabupaten Pacitan mengusulkan pemberian dana hibah sebesar 9 miliar melalui alokasi APBD untuk proyek pembangunan tersebut.

Sekitar 4239 meme dan postingan olok-olok bahkan membuat keyword “Bayar 9 Miliar” berhasil menduduki trending topic di laman Twitter hari ini, Selasa (16/2/2021).

Meskipun begitu, sebenarnya Bupati Pacitan Indartato telah menjelaskan asal muasal adanya alokasi tersebut. Indartato membantah bahwa dana 9 miliar tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pacitan. Katanya, dana itu dikucurkan oleh Pemprov Jawa Timur (Jatim) berupa bantuan keuangan khusus atau BKK.

“Bukan dari APBD Pacitan. Itu dari pemeritah provinsi yang memberikan bantuan, namanya bantuan keuangan khusus kepada pemerintah daerah untuk pembangunan museum Pak SBY,” kata Indartato.

Terlepas dari mana sumber alokasi dana hibah tersebut, angka 9 miliar tentu bukan angka yang kecil untuk sekedar dihambur-hamburkan pada masa krisis akibat pandemi seperti sekarang ini.

Sebagai sosok yang seringkali disebut dengan predikat negarawan, SBY seharusnya paham betul kondisi bangsa yang saat ini masih berjibaku dengan kondisi pandemi Covid-19. Dalam hal ini ia tentu juga mengerti bahwa dana 9 miliar tersebut tentu akan lebih berguna jika dialokasikan untuk hal-hal yang lebih mendesak, seperti penanganan Covid-19 misalnya.

Rencana pembangunan Museum SBY-Ani ini sebenarnya sudah cukup lama terdengar, bahkan konon rencana tersebut sudah dimulai saat SBY masih menjabat sebagai Presiden RI yang saat itu dianggarkan 66,5 miliar.

Mengenai alasan pembangunan museum ini, SBY sendiri pernah menyebut bahwa hal tersebut berawal dari kunjungannya museum Presiden Soekarno di Blitar, dan Museum Yogyakarta. Untuk itulah, dirinya mempunyai keinginan membangun museum di kota kelahirannya yakni Pacitan, Jawa Timur.

Selain alasan tersebut, ia pun juga menyebut bahwa pembangunan museum ini juga sebagai bukti dan tanda cintanya kepada istrinya.

“Ibu Ani sangat mencintai Pacitan. Beliau ingin punya museum di sini. Karena itu, kelak saya akan menulis dalam sebuah memoar bahwa ini (museum dan galeri) adalah wujud kecintaan saya dan keluarga saya yang begitu besar dan abadi kepada ibu Ani,” katanya.

Jika melihat alasan SBY terkait pembangunan museum tersebut, saya kok justru bertanya-tanya apakah SBY tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan?

Bagaimana tidak? Jika kita melihat alasan yang pernah disampaikan, dengan jelas kita dapat menyimpulkan bahwa pembangunan museum ini sifatnya sangat personal, sentimentil dan tidak begitu berdampak apapun untuk masyarakat.

Padahal jika kita petakan berdasarkan kebutuhan, tentu masyarakat saat ini tidak membutuhkan hadirnya museum tanda cinta tersebut. Di tengah kondisi pandemi seperti ini, masyarakat tentu lebih membutuhkan hal-hal yang lebih jelas urgensinya seperti bertahan hidup misalnya.

Selain itu, apa SBY sudah lupa kalau sebenarnya ia sudah memiliki museum yang ia bangun dengan biaya yang sangat fantastis di masa pemerintahannya? Iya, Museum Wisma Hambalang maksud saya…