Gibran dan Arena Battle Royale di Level Massa

0
53

DALAM perjalanannya, media sosial memang tak pernah menghasilkan dialog apa-apa. Ia hanya membuka ruang debat bagi mereka yang ingin berebut riuh menyampaikan argumen mereka. Tak ada dialog, yang ada hanya adu argumen pada tingkat elit yang selanjutnya pecah di level massa.

Seperti yang terjadi pasca Majalah Tempo menerbitkan hasil liputan investigasnya yang menyebut bahwa Putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka terlibat dalam korupsi bansos Covid-19. Sontak terbitan tersebut menjadi sebuah wahana “Battle Royale” bagi mereka yang memang gemar bertarung di media sosial.

Kegilaan tersebut tak hanya pecah pada level massa saja, tetapi lebih jauh dari itu. Ia kini menelusup jauh pada level sentimen kepartaian masing-masing. Pada tingkat massa, kabar mengenai Gibran tersebut setidaknya memecah dua trending topic di jagat Twitter, yakni tagar #tangkapanakpaklurah muncul tagar #TempoMediaASU.

Sementara pada level elit, ada pertarungan antara elit Partai Demokrat dan PDIP. Dalam cuitannya di laman Twitter, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Benny K Harman seolah menggunakan momen tersebut untuk menyerang PDIP.

“Dulu bilangnya Negara hadir untuk berantas korupsi, sekarang negara nyungsep, negara justru hadir menjadi tempat subur tumbuhnya korupsi. Apa khabar Bansos? Jangan sampai mangkrak! Rakyat Monitor!,” cuit Benny.

Tak hanya satu cuitan, dalam postingan lain ia seolah meragukan Presiden Jokowi dalam hal mengusut dugaan tindak pidana korupsi yang menggeret nama putranya tersebut.

“Saya mau melihat apakah presiden sekarang akan melindungi habis-habisan keluarga dekatnya atau akan legowo membiarkan orang dekatnya termasuk putra kandungnya sendiri diperiksa KPK. Jika saya Presiden Jokowi, saya akan buka pintu lebar-lebar untuk KPK periksa. Berani bung? Liberte!,” tambahnya.

Seolah geram dengan rentetan cuitan Benny tersebut, politisi PDI Perjuangan Dewi Tanjung tak tinggal diam dan ikut menyentil keluarga SBY yang merupakan bagian dari Partai Demokrat.

“Nyai (Dewi Tanjung) juga pengen dong lihat anak kandung SBY dan keluarganya dieriksa KPK. Mega kasus korupsi yang melibatkan beberapa Kader demokrat saat SBY jadi presiden,” Cuit Dewi Tanjung.

Tak hanya itu, ia mempertanyakan sumber kekayaan SBY yang selama ini didapat, baik sebelum dan sesudah menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Dalam hal ini, yang perlu kita garis bawahi adalah bukan masalah banar dan salah. Akan tetapi, kita juga perlu melihat bagaimana publik begitu terpancing untuk memperkuat terjadinya chaos dalam berbagai kesempatan.

Debat di level elit sebenarnya sudah biasa, masalahnya sekarang hal seperti itu juga sudah merembet pada level massa yang melibatkan masyarakat sipil di dalamnya. Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin perpecahan akan semakin berada di depan mata.

Ketika beberapa negara lain telah membuat sebuah lompatan besar, Indonesia kini justru sedang disibukkan oleh kegilaan yang tak jelas arah dan tujuannya. Ingat, negeri China sudah membaut matahari sendiri lho, lalu bagaimana dengan kita?

Mbuk yo oo sebagai masyarakat bisa kita ini nonton saja. Tidak usah terlalu mengambil pusing geger-geger di tingkat elit, lha wong tidak ada faedahnya juga.