Masuknya Nilai Baru Oleh Kolonial, Status Perempuan Dianggap “Kawulo Wingking”

0
38
Anggota Komisi D DPRD Pati dari Fraksi PKB, Muntamah.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Muntamah mencontohkan peran perempuan dalam bidang sosio-politik pada pra kolonial atau dalam sistem kerajaan di Nusantara. Pada saat itu, status perempuan cenderung mampu diposisikan pada derajat yang sama terhadap kaum laki-laki.

“Di era pra Majapahit dikenal cukup masyhur bagaimana Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga yang berhasil menegakkan keadilan di wilayah kerajaannya. Perempuan juga pernah menjadi ratu pada masa Mataram Kuno yaitu Sri Isanatunggawijaya,” katanya menjawab pertanyaan Saminnews terhadap Pemberdayaan Perempuan, beberapa waktu lalu.

Disebutkan bahwa Ratu Sri Isanatunggawijaya mewarisi tahta ayahnya yang bernama Raden wijaya. Selain tokoh perempuan itu, juga ada sosok ratu dari Jepara, yakni saat kerajaan Islam juga dikenal pemimpin perempuan yaitu Ratu Kalinyamat dari Jepara yang ikut berjuang mengusir Portugis di Malaka.

Sebab, pihaknya menilai dengan datangnya kolonial bangsa Barat ke Nusantara menyebabkan degradasi (penurunan, red). Status sosial perempuan dianggap sebagai kawulo wingking atau teman belakang. Keberadaan perempuan dikonotasikan bertugas pada wilayah domestik dalam rumah tangga.

Nilai-nilai kearifan lokal tergerus oleh gaya hidup bangsa Barat pada masa itu. Lantas, diadopsi oleh sejumlah kalangan elit lokal. “Sejarah kehidupan RA Kartini menunjukkan bahwa perempuan dari kalangan bangsawan lebih diarahkan pada peran domestik dominan, sehingga memiliki harapan yang cukup rendah untuk mengakses peran-peran sosial kemasyarakatan atau bahkan akses pada pendidikan,” jelasnya.

RA Kartini merupakan seorang pejuang emansipasi perempuan Indonesia. RA Kartini adalah anak dari keluarga elit lokal di masa kolonial yaitu anak Bupati Jepara yang selanjutnya menjadi istri dari Bupati Rembang.

Lebih lanjut, adanya nilai baru yang dibawa oleh bangsa kolonial dengan maksud imperialis (penjajahan, red) ini pada akhirnya membentuk proses budaya itu sendiri. Hal ini ditandai dengan unsur asimilasi atau penyatuan dari budaya yang berbeda dengan identik ada budaya lain yang dihilangkan. Dan dalam hal ini stigma peran perempuan sebagai kawulo wingking tadi.

Fenomena peran perempuan yang aktif secara sosial pada masa pra kolonial tidak hanya pada kalangan elit, tetapi pada perempuan yang hidup secara tradisional di pedesaan. Pasar-pasar dan perdagangan tradisional sebagaian besar dijalankan oleh perempuan dan hal itu berjalan selama berabad-abad bahkan tidak banyak berubah sampai saat ini.

“Peran perempuan yang di pedesaan tersebut mengalami stigmatisasi karena dianggap sebagai ciri kelompok pedesaan, udik, miskin dan kampungan. Peminggiran perempuan dari kalangan elit maupun stigmatisasi perempuan pedesaan terus berlanjut untuk diwariskan pada banyak kalangan setelah indonesia merdeka,” tandas Muntamah. (ADV)