Ketika Rizieq Selalu Digoreng Media

0
29

MEMBICARAKAN Habib Rizieq Shihab rasanya memang selalu tak ada habisnya. Seperti diketahui, sebagai seorang tokoh publik Rizieq memanglah seorang yang sangat populer. Meskipun sampai titik ini kita juga belum cukup bisa menterjemahkan kepopuleran tersebut.

Di sisi lain kita tahu betul bahwa Rizieq memang bukanlah tokoh biasa, ia begitu istimewa hingga dicintai ribuan jamaah militannya. Tapi dititik tertentu, kita juga tentu bertanya bahwa hiruk pikuk mengenai Rizieq terkadang begitu terasa bahwa hal tersebut bertumpu pada gorengan media.

Seperti baru-baru ini, di berbagai media arus utama nama Rizieq kembali muncul dan disebut kabur dari RS Ummi Bogor lewat pintu belakang. Penggunaan kata “Kabur” jelas terasa terlalu berlebihan dan sedikit lebay.

Jelas sekali bahwa penggunaan kata “Kabur” dalam konteks tersebut tentu mengarah pada konotasi yang tidak baik. Pada titik tersebut, media terasa begitu mengeksploitasi nama Rizieq sebagai obyek pembuatan berita sensasional.

Padahal sebagai sosok besar dengan ribuan pengikut, tentu ada juga sisi positif dari dirinya. Namun hampir disemua kesempatan, nama Rizieq selalu disoroti sebagai tokoh “Antihero” di Indonesia.

Jika kita ingat kembali, nama Rizieq selalu muncul dipermukaan dengan berbagai narasi negatif tiap kali ada keriuhan besar sebelumnya. Seperti peristiwa penolakan UU Cipta Kerja yang perlahan terlupakan setelah pemberitaan kepulangan Rizieq dengan berbagai pelanggaran protokol kesehatan kemarin.

Sebenarnya bukan kali ini saja, jika kita mau sedikit mengingat. Tentu ada beberapa peristiwa besar yang berhasil ditutup oleh chaos yang ditimbulkan oleh Habib Rizieq Shihab.

Narasi media semacam ini tentu sangat tidak menarik bagi mereka yang cukup jeli mengurut linimasa suatu peristiwa.

Sebagai pembaca kita juga tentu menginginkan adanya pemberitaan yang akurat dan jauh dari framing apalagi penggiringan opini demi kepentingan salah satu pihak.

Hal seperti ini tentu bukan hanya berlaku pada Habib Rizieq Shihab saja. Jangan sampai justru ada anggapan bahwa media mencari makan dari menggoreng isu dan memframing suatu peristiwa dengan cara yang sangat lebay.