Dokter Spesialis Itu Dimakamkan Bersebelahan dengan Makam Istrinya

0
740
Makam seorang dokter spesialis di Pati ditempatkan bersebelahan dengan istrinya yang meninggal lebih dahulu, dan sama-sama positif terpapar virus Corona (Covid-19).

SAMIN-NEWS.com, PATI – Kendati banyak yang berspekulasi bahwa Covid-19 adalah kebohongan, tapi fakta yang bisa dilihat adalah berlangsungnya pemakaman Sabtu (7/11) hari ini, di Tempat Pemakaman Khusus (TPK) untuk umat Kristiani di Dukuh Ngagul, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati. Sedangkan jenazah yang dimakamkan di TPK tersebut, tak lain seorang dokter spesialis, dan cukup terkenal di Pati.

Meninggalnya dokter yang bersangkutan, menyusul setelah dirawat hampir selama satu bulan di Rumah Sakit (RS) Dokter Moewardi Solo yang saat itu secara bersamaan dirawat pula istrinya. Akan tetapi, almarhumah meninggal lebih dahulu, tepatnya Minggu (18/10) lalu, dan dimakamkan di TPK tersebut dengan posisi berada di sebelah kiri (barat) dan di kanannya (timur) sebagai makam dokter spesialis yang bersangkutan.

Sebab, dokter tersebut meninggal Jumat (6/11) tadi malam sekitar pukul 21.30, dan pemakamannya baru berlangsung Sabtu (7/11) siang hari sekitar pukul 12.30. Beberapa saat sebelum pemakaman oleh Tim Pemakaman dari Badan Penangggulangan Daerah (BPBD) Pati, oleh  perwakilan pihak keluarga minta ditunda dulu, dan saat itu peti jenazah sudah berada di atas lubang makam.

Tim pemakaman saat membawa jenazah ke lubang pemakamam di TPK Umat Kristiani, di Dukuh Ngagul, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati.

Dengan demikian, kotbah jenazah oleh Pendeta dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Pati dan pemasukkan jenazah ke lubang makam juga ditangguhkan sementara, karena salah seorang putri almarhum bersama keluarga lainnya yang mengikuti jenazah tapi bermobil lain sempat tertinggal. Sehingga begitu mobil ambulans pembawa peti jenazah tiba di TPK tersebut, maka harus menunggu terlebih dahulu untuk memasukkannya ke dalam lubang pemakaman.

Sekitar 15 menit kemudian, barulah keluarga almarhum tiba di tempat pemakaman, dan pendeta dari gereja di mana selama ini almarhun adalah jemaatnya yang aktif, langsung memulai kotbah kematian tersebut. Kotbah itu pun ditutup dengan menebar tanah ke peti jenazah sebanyak tiga kali dengan menyatakan, bahwa pada awal mulanya ”manusia itu berasal dari tanah maka kembalilah ke tanah.”

Pendeta selesai melaksnakan kotbah kematian, dan tim pemakaman pun sudah siap siaga di tepi lubang pemakaman.

Dengan selesainya kotbah tersebut, maka tim pemakaman pun langsung memasukkan peti jenazah almarhum ke dalam lubang makam. Sementara itu, putri dan menantu alamarhum bersama pendeta masih menunggu berlangsungnya pengurukan/penutupan lubang hingga rampung, dilanjutkan dengan penaburan bunga.

Penempatan nisan salib ke pusara almarhum dokter sopesialis itu dilakukan oleh tim pemakaman dan juga tabur bunganya.

Diperoleh keterangan, beberapa saat menjelang berlangsungnya pemakaman, salah seorang putra almarhum yang berada di luar Jawa tengah menempuh perjalanan pulang dengan pesawat udara dan baru mendarat di Bandara Sutta. Sedangkan dari Jakarta ke Semarang harus menunggu penerbangan yang jam 15.00, maka untuk melanjutkan perjalanannya  tetap harus menunggu sehingga putranya itu tidak mengetahui proses pemakaman ayahnya.