Ribuan Nakes Terinfeksi Covid-19, Pemerintah Kemana Saja?

0
26

SEBAGAI garda terdepan penanganan covid-19, tenaga medis tentu menjadi salah satu pihak yang paling berpotensi terpapar covid-19. Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, rumah sakit disebut-sebut sebagai klaster terbesar penularan virus corona.

Dalam data tersebut disebutkan setidaknya ada 24.400 orang tertular dari interaksi di tempat ini. Ditambah klaster puskesmas 220 orang, jumlah total klaster fasilitas kesehatan mencapai 24.620. Dampak dari hal tersebut, tentu juga dirasakan langsung oleh tenaga kesehatan, mulai dokter, perawat, hingga apoteker.

Berdasarkan data yang dihimpun dari asosiasi profesi, setidaknya da 245 nakes meninggal dan 6.720 positif covid-19. Jumlah kasus positif belum termasuk dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), namun nakes meninggal terbanyak adalah dokter, yakni 117 orang.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar IDI dr Daeng M Faqih mengatakan risiko penularan nakes tinggi karena mereka bersentuhan langsung dengan pasien Corona. Atas dasar itu pula ia meminta ada upaya lebih untuk meningkatkan perlindungan.

Dengan tingginya angka tersebut, pemerintah sudah seharusnya mengambil langkah lebih jelas untuk memberi keamanan bagi tenaga medis yang sedang bertugas. Bahkan hingga berbulan-bulan pandemi berlangsung, tentu tidak sulit untuk menemukan tenaga medis yang mengaku kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

APD tentu bukanlah satu-satunya permasalahan yang dihadapi oleh tenaga medis, ada segudang masalah yang kompleks yang menyertai perjuangan nakes dalam penanganan covid-19 di Indonesia. Fasilitas, keamanan dan kesejahteraan tentu menjadi PR besar bagi pemerintah dalam hal tersebut.

Jika kita melihat dengan kacamata masyarakat awam, bagaimana bisa seseorang bekerja dengan ancaman sedemikian rupa tanpa adanya keamanan dan kesejahteraan yang diberikan?

Di Kabupaten Pati sendiri, beberapa waktu yang lalu juga terdapat kabar meninggalnya seorang nakes dari salah satu RSUD yang ada di Pati. Namun saat itu pemerintah daerah seperti menutup mata begitu saja. Jangankan memperhatikan? Menyiarkan dan memberi penghormatan saja tidak, bahkan kejadian tersebut seperti ditutup rapat begitu saja.

Hal seperti itu tentu menjadi sebuah ironi, disaat nakes bekerja keras dalam penanganan covid-19 pemerintah justru tidak memberikan apresiasi sama sekali. Bahkan terdakang saya pun merasa geli saat pemerintah memberikan bantuan yang tak seberapa dan sibuk memamerkan setelahnya. Apa mereka tidak malu dengan apa tenaga medis yang sedang berjuang hidup dan mati untuk negeri?