Rumah yang Dipindahkan dari Lokasi Proyek Alun-alun Jakenan Dihadapkan ke Timur

0
35
Pemilik rumah satu-satunya yang akan dipindahkan dari lokasi untuk Alun-alun Jakenan , Karno (atas) tengah melihat pekerja yang menggali lubang fondasi calon rumahnya.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sesuai perhitungan ”hari baik” untuk memulai proses pemindahan dan pendirian rumah tinggal, Rabu (5/8) kemarin, dilakukan satu-satunya pemilik rumah dan tanah untuk Alun-alun Jakenan, yaitu Karno. Yang bersangkutan secara resmi sudah memulai menggali lubang fondasi untuk rumah kediamanya dengan lokasi tanah pengganti disisi timur Kantor Kecamatan Jakenan, dan sudah menetapkan rumahnya itu akhirnya dihadapkan ke timur.

Sedangkan di lokasi lama, rumah bentuk limas dengan  bahan meterial semua  dari kayu jati tersebut semula menghadap ke barat. Sedangkan perubahan arah menghadap rumahnya itu menyusul setelah upaya yang bersangkutan untuk meminta tambahan tanah seluas 50 meter persegi kepada pihak berkompeten tidak dipenuhi, sehingga rencana mengubah arah menghadapnya rumah ke utara pun dibatalkan.

Dengan demikian, kata Karno yang pensiunan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jakenan tersebut, dia hanya mendapat ganti alokasi tanah sesuai tanah miliknya semula yang luas seluruhnya 460 meter persegi. ”Jika kami menghadapkan rumah ke utara, maka akses jalan untuk keluar maupun masuk rumah nanti akan terganggu,”ujarnya.

Pembuatan pot-pot besar untuk tanaman hias di sekeliling tepi bundaran Alun-alun Jakenan yang tengah dikerjakan oleh para pekerja.(Foto:SN/aed)

Sebab, lanjut dia, jika rumah menghadap ke timur maka sisi sebelah kiri masih tersedia tanah yang untuk mendirikan rumah induk, sehingga sisa tanah itulah yang sejak awal akan digunakan membuka kegiatan usaha berjualan. Akan tetapi, karena untuk meminta tambahan tidak diberikan maka dengan cara itu, rencana membuka warung bisa tersedia tanah untuk ditempati dengan mendirikan warung.

Lagi pula, rencana tempat membuka usaha kecil-kecilan untuk mencari tambahan penghasilan sebagai orang pensiunan juga tepat di pinggir jalan kampung. Dengan begitu siapa saja bisa lewat sehingga jika ada warung, maka mereka membutuhkan apa harapannya bisa membeli di tempatnya tapi sebagai gambaran sementara yang mudah dan cepat bisa dilaksanakan adalah membuka warung sebagai tempat minum kopi.

Selebihnya jika pagi sampai siang berjualan nasi, karena nanti kalau situasi sudah normal dari pandemi Corona-19, para karyawan di lingkungan kantor kecamatan tiap pagi maupun siang pasti membutuhkan. ”Itulah mengapa kami harus menghadapkan rumah ke timur bukan ke utara, dan mudah-mudahan nanti bisa membuat warung meskipun hanya sederhana,”imbuhnya.