Media Sosial, Kemerdekaan yang Justru Membelenggu

0
23

KEMERDEKAAN Sering kali disalah tafsirkan, kemerdekaan yang juga bisa diartikan kebebasan sekarang sering kali disalah artikan sebagai sebuah alat untuk melakukan apa saja tanpa ada pertanggung jawaban. Padahal dengan jelas, kebebasan dalam segala hal selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Tahun ini Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-75, dengan angka sebesar itu tentu seharusnya masyarakat Indonesia mampu memaknai kemerdekaan lebih esensi dan mendasar. Terlebih di tengah masa pandemi seperti ini, sudah seyogyanya kita mampu memanfaatkan momentum ini sebagai wahana untuk memerkokoh kesatuan bangsa.

Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah kita memang sudah benar-benar merdeka dan terbebas dari penjajahan dalam segala bentuk dan aspek di masa sekarang ini ?

Pertanyaan tersebut nampaknya cukup relevan untuk dilontarkan di masa sekarang ini. Karena meskipun Indonesia sudah terbebas dari penjajahan, namun hal tersebut tak lantas membuat kita benar-benar terbebas  dan benar-benar merdeka.

Seperti sekarang ini, terkadang kita justru salah menafsirkan kemerdekaan dengan perilaku yang tidak sesuai dengan esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Salah satunya adalah kemerdekaan dalam menyampaikan pendapat di media sosial yang terkesan tak ada batasannya.

Dalam jagat media sosial yang cenderung tanpa ada batasan akhir-akhir ini sering kali dijadikan sebagai ajang hujat-menghujat dan melontarkan sebuah pernyataan tanpa adanya tanggung jawab. Hal seperti itu tentu saja bukanlah bentuk sebuah kebebasan yang dapat diartikan sebagai kemerdekaan.

Media sosial memang selalu riuh rendah penuh gairah, apapun diperdebatkan. Muncul isu sedikit di tingkat elit pasti akan berujung pertarungan di level massa. Datang isu panas di tingkat bawah, meledak pula pandangan dari ribuan penonton dan penggembira.

Meskipun media sosial sering kali dianggap sebagai medium komunikasi, tetapi nyatanya media sosial tak pernah menghasilkan dialog. Mereka hanya berebut riuh dengan argumen masing-masing, hanya melempar pendapat dan takkan ada dialog didalamnya.

Kita cenderung berkumpul hanya bersama orang-orang yang berpendapat sama. Situasi itu membawa kita kepada akses sumber-sumber informasi yang juga sama, sudut pandang yang selalu sama, serta imajinasi-imajinasi yang juga sama.

Kita tak pernah mau membaca informasi yang dibutuhkan, kita hanya mengkonsumsi apa yang kita inginkan. Hasilnya, ketika kita membagi tautan, misalnya, alih-alih membagi kabar yang benar-benar baru, kita bakalan lebih nikmat menyundul-nyundul informasi yang memang sedari awal sudah kita landasi dengan prakonsepsi

Pendek kata, kita hanya terbiasa memanjakan pendapat dan imajinasi kita sendiri, memilih informasi hanya berdasarkan apa yang ingin kita percayai lalu diakhiri dengan merasakan kenikamatan diri dan ego sendiri. Kebiasaan itu jelas semakin mencengkeram diri kita manakala kita berjumpa dengan pandangan lain yang jauh berbeda dengan apa yang kita yakini.

Jika kita pernah membaca  buku Geography of Genius, Eric Weiner menukil psikolog Irving Janis. Irving meneliti rapat-rapat yang dipimpin oleh Presiden John F Kennedy, dengan peserta tokoh-tokoh paling cerdas dalam lingkar kekuasaan utama Amerika. Rangkaian panjang diskusi orang-orang hebat itu justru melahirkan salah satu keputusan terbodoh dalam sejarah negara tersebut, yakni invasi ke Teluk Babi, Kuba, pada 1961. Hampir 1.400 orang buangan Kuba yang dilatih oleh CIA tertangkap dan dibunuh. Lah, kenapa hasil pemikiran orang-orang tajir malah justru begitu buruk?

Irving menyampaikan bahwa menurutnya, kesalahan-kesalahan dalam penilaian terjadi bukan karena kebodohan, melainkan karena karakter manusia. Saat orang-orang dengan latar belakang yang sama berkumpul, tidak mengenal perbedaan pendapat, maka yang ada hanyalah upaya untuk saling menyenangkan satu sama lain. Hasilnya sangat mudah ditebak, yakni konsensus pada langkah-langkah yang disukai bersama, bahkan meski konsensus itu salah sekalipun.

Berkumpulnya orang-orang dengan pemikiran sama selalu akan berujung dengan tumpulnya kreatifitas dan akan melenyapkan peluang munculnya ide-ide cemerlang nan jenius. Pada situasi seperti ini lah harmoni dan kebersamaan tak selalu membawa hasil yang gemah ripah.

Dalam momen seperti inilah kita seharusnya mampu dan mau merefleksikan kemerdekaan dalam ruang yang lebih arif dan esensial, bukan hanya berdasarkan kebebasan apa yang kita inginkan. Alih-alih merdeka, jika kite bertahan dengan pola seperti ini, kemerdekaan justru akan membelenggu kita dalam ketidakharmonisan.