Mulai Terjadi Kelangkaan Pupuk di Pati Selatan

0
160
Kepala Gudang PT Pusri Kaliampo, Pati, Dimas Putro Haryanyto.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Memasuki musim tanam (MT) III, petani di wilayah Pati selatan khususnya di Kecamatan Sukolilo, mulai menghadapi kesulitan mendapatkan pupuk jenis urea dari PT Pusri. Alasannya, pihak distributor maupun pengecer di wilayah tersebut dalam upaya mendapatkan sarana produksi (saprodi) itu juga tidak maksimal, karena memang sudah terjadi pengurangan dalam penebusannya ke gudang PT yang bersangkutan.

Akibatnya, jika ada petani yang membutuhkan pupuk jenis itu di tingkat pengecer selain barangnya disebutkan tidak ada, tapi jika ada harganya juga harganya cukup tinggi, karena untuk pupuk urea sebanyak satu sak berat 50 kilogram dipatok dengan harga Rp 130.000. Dari harga sebesar itu, biasanya petani yang membeli mendapat ”embel-embel tambahan pupuk ponska sekitar tiga kilogram, sedangkan untuk membeli pupuk nonsubsidi juga sulit.

Misalnya ada barangnya, kata salah seorang petani, Sujadi (62), warga Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, jika tidak mempunyai kartu tani juga tidak dilayani. Jangankan tidak punya, karena yang mempunyai  kartu tani jika tidak di wilayah pengecer pupuk tersebut untuk membeli dengan harga berapa pun tidak dilayani.

Karena itu, saat ini dalam upaya mendapatkan pupuk urea yang memang dibutuhkan masyarakat saat musim tanam seperti sekarang petani memang benar-benar mengalami kesulitan. ”Padahal di MT III ini kami bersama warga lainnya tentu tidak kembali menanam padi melainkan menggantinya dengan menanam palawija, khususnya jagung,”ujarnya.

Jika saatnya harus memupuk, lanjut dia, tapi kesulitan mendapat pupuk maka hasil produksi tanaman jagung nanti jika panen sudah pasti tidak maksimal. Mengingat hal tersebut, kelangkaan pupuk ini agar secepatnya bisa diatasi karena banyak petani yang saat ini semua menanam palawija, sehingga dalam waktu sekitar dua pekan lagi yang membutuhkan pupuk tentu cukup banyak.

Misalnya, kebutuhan pupuk dipenuhi dan harus membeli yang nonsubsidi sepanjang harganya wajar-wajar saja, petani juga tidak merasa keberatan asal ada barangnya. ”Akan tetapi jika harganya sangat memberatkan di tingkat pengecer, hendaknya bisa dilakukan pengecekan oleh pihak distributor karena hal itu memang tanggung jawabnya,”tandas Sujadi.

Ditanya berkait hak tersebut dalam kesempatan terpisah, Kepala Gudang PT Pusri di Kaliampo, Pati, Dimas Putro Haryanto tidak mengelak, karena sebenarnya tidak ada kelangkaan pupuk melainkan alokasinya sejak tiga tahun terakhir untuk Kabupaten Pati memang sudah dikurangi. Biasanya per tahun mendapat alokasi  antara 38.000 s/d 40.000 ton, sekarang tinggal 31,7 ton sehingga ada wilayah kecamatan yang jatah pupuk ke pengecer saat ini juga sudah mulai berkurang.

Padahal saat ini masih dalam waktu MT II belum beakhir sehingga ada petani yang membutuhkan pupuk di MT III sudah tidak bisa mengirimnya secara proporsional. Karena itu kalau disebut langka tentu tidak tepat mengingat sampai sekarang di gudang masih ada antrean kendaraan pengangkut yang hendak membongkar muatannya.

Lagi pula, dalam mengalokasikan pendistribusian pupuk adalah berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). ”Karena itu, kami akan mengecek ke lapangan bagimana kondisi sebenarnya,”tandas Dimas Putro Haryanto.