Penggunan Air Limbah Tapioka 50 : 50

0
72
Harnoto, petani asal Desa Sidomuktio, Kecamatan Margoyoso, Pati yang selama ini memanfaatkan air limbah tapioka.(Foto:SN/dok-har)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Petani yang selama ini memenuhi ketersediaan dan ketercukupan air untuk bercocok tanam padi dengan air limbah tapioka yang juga dikenal dengan sebutan ”lindur” adalah Harnoto, asal Desa Sidomukti, Kecamatan Margoyoso Pati. Karena itu, bagi petani yang hendak memanfaatkan limbah tersebut asal perbandingannya 50:50 popsisi tanaman padi, dijamin tetap aman dan akan tumbuh subur.

Karena itu, penggunaan limbah tersebut, kata dia, juga sudah lama dilakukan para petani selain  Desa Sidomukti juga Pangkalan, Pohijo dan Kertomulyo. Hal tersebut bisa dilakukan para petani di empat desa, utamanya saat musim kemarau karena dukungan fasilitas Bendung Pangkalan yang berlokasi di Desa Sidiomukti.

Tanaman padi menggunakan air limbah dalam kurun waktu/umur yang sama.

Sedangkan suplai air limbah tapioka, karena di desanya dan sekitar terdafatar para perajin tapioka juga saat harus menggelontorkan lindurnya melalui dua alur kali di desanya. ”Masing-masing, adalah alur Kali Gesing / Winong dan alur Kali Mergolilo yang masuk dan diendapkan di Bendung Pangkalan, setelah mengalami proses pengendapan baru dialirkan ke lahan sawah para petani yang membutuhkan,”ujarnya.

Dengan komposisi penggunaan seperti itu, masih kata dia, maka pada saat sawah hendak diolah dengan ditraktor maka 50 persen air limbah tersebut dimasukkan ke areal persawahan. Selesai dibajak, maka sisanya yang 50 persen berupa air tawar atau air hujan  juga dimasukkan ke areal persawahan kemudian diikuti dengan kegiatan penanaman.

Tanaman padi mengunakan pengairan nonlimbah .

Melalui upaya tersebut, maka tanaman padi saat dalam proses pertumbuhan juga tidak perlu menggunakan banyak pupuk buatan pabrik, karena dengan menggunakan lindur tapioka, maka pemakaian pupuk buatan pabrik bisa dihemat sebesar 25 persen. Karena itu jika para petani di kawasan hilir Bendung Pangkalan mengikuti jejaknya, memang penerapannya bukan hal sulit.

Asal tidak buru-buru memanfaatkan air limbah yang belum melalui proses pengendapan serta dicampur dengan air tawar 50 : 50, maka tanaman padi yang luas seluruhnya mencapai 150 hektare lebih tetap dalam posisi aman. ”Kedati sudah ada saluran air limbah tapi saluran air dari sumber alam juga kami siapkan,”imbuhnya.